Lorens Logam Ultimatum Dinas Tata Ruang untuk Mengatasi Bau Busuk di Restoran Primarasa

Labuan Bajo | Mabaraktual.com | Aktivis yang peduli terhadap lingkungan, Lorens Logam, melakukan kunjungan ke kantor Dinas Cipta Karya, Tata Ruang Kawasan, dan Permukiman Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Senin (03/07/2023). Kunjungannya ini bertujuan untuk mempertanyakan kinerja pemerintah daerah dalam menindak investor yang terkesan mengabaikan kewajiban mereka.

Dalam diskusi dengan Kepala Dinas Cipta Karya, Severinus Kurniadi, Lorens Logam mendesak pemerintah daerah Mabar, melalui dinas teknis, untuk segera mencabut izin usaha Primarasa yang telah melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Undang-undang tersebut menegaskan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus dilakukan dengan benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu. Selain itu, semua usaha dan kegiatan harus melakukan pemantauan kualitas air limbah secara berkelanjutan dan terintegrasi, sesuai dengan standar mutu dan kerusakan lingkungan hidup yang ditetapkan.

“Kami memberikan ultimatum kepada dinas tata ruang dan lingkungan hidup untuk merespons tuntutan kami dalam waktu tiga hari ke depan. Jika tidak ada respons yang serius, kami akan turun ke jalan melakukan unjuk rasa,” tegas Logam.

Tuntutan Logam didasarkan pula pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 93 Tahun 2018 tentang Pemantauan Kualitas Air Limbah. Dalam peraturan tersebut, pengusaha di sektor perhotelan, restoran, laundry, tempat cuci mobil, dan sejenisnya yang menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) manual wajib menggunakan Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah (SPARING) secara berkala.

“Lihatlah, sudah ada aturan yang mengatur pengelolaan limbah, namun pemerintah terkesan membiarkan aktivitas ini berlanjut,” ungkap Logam.

Tentu hal ini, pemerintah daerah Mabar perlu bertindak tegas dalam menegakkan peraturan terkait perlindungan lingkungan hidup.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Cipta Karya, Severinus Kurniadi, mengakui adanya bau menyengat di restoran Primarasa. Ia menjelaskan bahwa restoran tersebut seharusnya tidak membuang limbah ke saluran drainase yang berada di pinggir jalan jalur Bandara-Binongko. Saluran tersebut hanya ditujukan untuk mengalirkan air hujan agar tidak tergenang.

“Saluran tersebut bukanlah saluran untuk pembuangan limbah. Seharusnya, mereka membuat sistem resapan sendiri,” jelas Severinus Kurniadi.

Ia pun berharap Dinas Lingkungan Hidup agar mendorong restoran Primarasa untuk membuat resapan sendiri mengatasi poersoalan limbah yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *