Masyarakat di Mabar Segel Pekerjaan Jalan Milik Dinas Pertanian, Kebijakan yang Tidak Sesuai Peruntukan

Labuan Bajo |Mabaraktual.com|  Kelompok masyarakat Dusun Watu Wani, Desa Surunumbeng, melakukan aksi penutupan jalan yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik penugasan bidang pertanian kabupaten Manggarai Barat tahun anggaran 2023.

Aksi penutupan jalan ini berlangsung sebagai bentuk protes dan kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah daerah yang mengeksekusi proyek pembangunan prasarana pertanian di ruas jalan milik desa.

Proyek ini dianggap tidak sesuai dengan peruntukan dana yang seharusnya ditujukan untuk pengembangan infrastruktur pertanian, khususnya untuk pembangunan, rehabilitasi, dan pemeliharaan jalan usaha tani Desa Surunumbeng, kecamatan Lembor Selatan.

“Dana ini sesunguhnya diperuntukan jalan tani. Namun pelaksanaanya tumpang tidih diatas jalan desa yang baru dikerjakan berapa tahun lalu.” kata Benyamin Suhardi,kepada Mabaraktual via gawai (26/07/2023).

Menurut Benyamin Suhardi, seorang Tokoh Masyarakat Desa Surunumbeng yang juga menjadi penanggung jawab aksi penutupan jalan tersebut. Dana Alokasi Khusus yang diberikan seharusnya digunakan untuk pembangunan jalan tani. Namun, dana tersebut justru digunakan untuk memperbaiki jalan desa yang baru saja dikerjakan pada tahun sebelumnya. Penyimpangan ini menimbulkan kekecewaan yang mendalam di kalangan masyarakat.

Lebih lanjut, Benyamin Suhardi menjelaskan bahwa dana tersebut seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas ruas jalan Wae Warang-Lengkong Mbuhung, yang memang seharusnya menjadi bagian dari jalan tani dan telah dikerjakan oleh dinas pertanian sebelumnya. Tetapi, jalur ini belum rampung dengan sekitar 2 kilometer yang belum terselesaikan.

Namun, tanpa sepengetahuan masyarakat, ketua kelompok tani bersama kepala desa mengubah peruntukan dana tersebut. Mereka memutuskan untuk menggunakan dana tersebut untuk memperbaiki jalan desa yang sudah dikerjakan dengan dana desa sebelumnya, kemungkinan agar bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Hal ini tentu saja menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat, dan Benyamin Suhardi menyatakan bahwa mereka telah sepakat untuk mendesak dinas pertanian agar segera mengembalikan proyek pembangunan tersebut ke jalur semula sesuai peruntukannya.

“Mereka mencari kemudahan dengan memanfaatkan jalan yang sudah dibiayai dana desa agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar,” ujar Benyamin dengan nada kecewa.

Masyarakat Desa Surunumbeng menolak proyek yang tidak sesuai peruntukannya dan berharap pihak berwenang menghentikan pekerjaan tersebut serta mengembalikan dana tersebut ke daerah. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak ingin program yang terkesan hanya menipu masyarakat, dan berharap kebijakan pemerintah dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Mereka menilai dampak dari proyek pembangunan yang tidak sesuai peruntukan ini juga sangat terasa bagi para petani di Desa Surunumbeng. Karena jalan tani belum rampung, mereka kesulitan dalam mengangkut hasil pertanian mereka, yang akhirnya menyebabkan biaya angkut menjadi sangat tinggi.

Jika proyek tersebut dilanjutkan sesuai peruntukannya, maka akan ada manfaat besar bagi masyarakat petani, di mana biaya angkut hasil pertanian yang semula mencapai 20.000 per karung dapat berkurang menjadi 5000 per karung.

Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat, Laurensius Halu, enggan memberikan komentar ketika dikonfirmasi tentang kontroversi proyek tersebut. Ia menyatakan bahwa dirinya sedang sakit ketika awak media mencoba menemuinya di kantor dinas pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *