Menapak Sejauh Tradisi: Keindahan Ritual Curu dalam Budaya Manggarai

Penulis : Marsel Pangkur

Dalam kekayaan budaya Manggarai, terdapat satu tradisi yang menggoda rasa kehangatan dan kebersamaan, dikenal sebagai Ritual ‘Suru’ atau sering disebut Ritual Curu. Kata “Suru” sendiri¬† berarti Jemput. Namun, maknanya jauh lebih dalam ketika meresapi keunikan dan kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya.

Ritual ini menjadi pemandangan lazim ketika ada tamu yang akan memasuki kampung Manggarai. Pa’ang, atau pintu masuk ke kampung, menjadi panggung utama di mana ritual Curu ini dilaksanakan. Tuan kampung mempersiapkan beberapa barang khusus, seperti Tuak, Kopi, dan Rokok, yang nantinya akan diberikan kepada tamu sebagai bentuk penghormatan dan sambutan.

Namun, jauh di balik keberlanjutan ritual ini, terdapat makna yang mendalam. Ritual Curu mengandung esensi saling menghargai sesama sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Dalam budaya Manggarai, sikap ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi menciptakan kenyamanan bagi tamu yang datang.

Tamu yang dijemput dengan ritual Curu akan merasakan antusiasme dan kehangatan, merasa bahwa kehadirannya begitu dinantikan, dan bahwa dia bukan sekadar pengunjung, tetapi bagian dari keluarga atau kehormatan yang dijamu dengan sepenuh hati.

Lebih dari sekadar tradisi, Ritual Curu menjadi penting untuk diwarisi kepada generasi berikutnya. Dalam era modern yang seringkali dilanda kurangnya saling menghargai, ritual ini menjadi jendela yang membawa kita kembali ke nilai-nilai dasar tentang kebersamaan dan keramahan.

Budaya Manggarai mengajarkan bahwa menghargai satu sama lain adalah pondasi utama dari kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Maka, mari bersama-sama merawat dan merayakan kekayaan tradisi ini sebagai bagian tak terpisahkan dari keindahan budaya Manggarai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *