Seorang Pria Tunanetra Asal Manggarai Barat Berhasil Raih Gelar Sarjana Pendidikan di Unwira Kupang

Labuan Bajo |Mabaraktual. Com| Seorang Pria bernama Hendrikus Gampaur berusia 37 tahun yang berasal dari Kampung Ngalo , Desa Dieng Kuwus Barat, Manggarai Barat, NTT mengalami Tunanetra.

Dengan keterbatasannya, Hendrik berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan Bimbingan Konseling di suatu perguruan Tinggi Universitas Widyia Mandira Katolik (UNWIRA) Kupang pada tahun 2014.

Hendrik yang merupakan anak dari Bapak Bernadus Dabun dan Ibu Oliva Meri, anak kellima dari 8 bersaudara memiliki semangat yang tinggi meskipun dengan kondisinya seperti itu. Secara fisik Ia dilahirkan dengan sempurna namun tanpa disadari ternyata Ia mengalami disabilitas sejak usia 3 tahun.

“Secara fisik saya dilahirkan dengan sempurna, namun ternyata Tuhan punya rencana lain, di usia 3 tahun lebih saya mengalami disabilitas netra” ujar Hendrik saat ditemui Mabaraktual. Com di rumah kediamannya (23/03/2024)

Tentunya kondisi itu adalah suatu hal yang sangat memperihatinkan untuk Hendrik. Karena setiap harinya Ia harus merasa malu dandikucilkan oleh orang sekitarnya.

“Sejak saat itu, awal saya merasa minder seperti dikucilkan atau tidak diakui karena harapan untuk hidup sudah tidak ada, saya merasa putus asa. Namun, ternyata Tuhan punya rahasia untuk kita sebagai manusia yang tak pernah kita duga, ternyata ada Sekolah khusus untuk yang disabilitas netra dan Luar saya masuk ke sekolah tersebut, ” lanjutnya.

Setelah selesai dari Sekolah Luar Biasa (SLB) ia melanjutkan pendidikan SMP, SMA, dan Kuliah. Tentunya itu merupakan suatu hal kesempatan yang patut disyukuri karena dengan adanya sekolah khusus yang bisa menerima disabilitas netra, Hendrik merasa adanya harapan untuk diterima oleh masyarakat pada umumnya.

“Dari SLB saya melanjutkan SMP, SMA, dan Kuliah dan puji syukur ada sekolah insklusif yang bisa menerima sehingga kita bisa diterima oleh masyarakat umum bahwa disabilitas ini ternyata secara fisik itu kurang tetapi untuk soal intelektual bisa bersaing sehingga saya lanjut SMP, SMA, dan Kuliah, ” tendesnya.

Hendrik juga ternyata memiliki motivasi yang membuat Ia semangat untuk menempuh pendidikan dan mendapat gelar sarjana.

“Saya senang ketika adanya sekolah khusus yang bisa menyekolahkan kami disitulah tumbuh harapan baru bahwa ternyata masih ada harapan untuk bisa mengembangkan potensi yang ada, ” imbuhnya.

Bagi Hendrik disabilitas bukanlah suatu masalah ataupun halangan untuk terus bermipi. Sehingga Ia selalu berpegangang pada motivasi yang kuat dalam dirinya.

“Yang paling mendorong saya untuk sekolah terus bahwa disabilitas itu bukanlah suatu halangan atau tantangan untuk bermimpi. Karena pandangan masyarakat orang yang penyandang disabilitas adalah dianggap orang yang tidak mampu”.

“Ada yang mengatakan bahwa disabilitas itu bukanlah sebuah halangan justru itu memotivasi untuk kita dalam kondisi seperti ini kita tetap bisa untuk bersaing, secara fisik kita boleh berbeda tetapi dalam hal yang lain kita adalah sama. Sehingga itu motivasi saya , bahwa Saya bisa. Saya pasti mampu.” pungkas Hendrikus.

Setalah Ia menyelesaikan kuliah, Hendrik kembali ke Kampung asalnya dan memulai untuk mencari pekerjaan di Kota Labuan Bajo. Namun, setiap lamarannya belum di terealisasikan oleh setiap instansi.

“Pastinya setelah kuliah saya masukan lamaran namun sampai sekarang lamaran itu belum ada yang terealisasikan, sehingga keseharian saya hanya memelihara seekor babi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *